Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau.

Kalau kamu tak sanggup jadi belukar, jadi saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Tidaklah semua menjadi kapten, tentu saja harus ada awak kapalnya.

Bukan besar-kecilnya tugas yang menjadikan tinggi-rendahnya nilai diri. Jadilah saja dirimu…Sebaik-baiknya dirimu.

(Malloch, Rerumputan Dedaunan)

Membaca puisi di atas, membuat saya agak terheyak. Teringat nasehat orang tuaku yang tercinta: “Kalau mau sukses, kamu harus kerja keras, kursus Bahasa Inggris, Kursus Komputer, Kursus Matematika, Kursus….” Ketika sekolah, waktu saya habis untuk kursus ini, kursus itu, kegiatan ini, kegiatan itu.. Saya tidak mengatakan bahwa semua itu buruk. Sebenarnya setiap manusia memiliki tempat di dalam kehidupan ini.  Seharusnya setiap anak diberi kesempatan mengembangkan talenta yang Tuhan anugrahkan kepada mereka masing-masing.

Saya berpikir, bagaimana jika Basuki Abdulah hidup di Indonesia masa sekarang ini. Tentu beliau menghabiskan waktu untuk kursus komputer, kursus piano, kursus Bahasa Inggris, les berenang, dll.. Padahal talenta beliau adalah melukis. Mungkin jika beliau hidup di masa sekarang talenta beliau tertutup oleh ketrampilan-ketrampilan “tetek-bengek” yang tidak ada hubungan dengan bakat/talenta yang Tuhan anugrahkan kepada beliau. Mungkin kita menemukan Basuki Abdulah mengajar pelajaran Kimia di suatu SMA bergengsi bertaraf internasional. Kita akan kehilangan banyak sekali lukisan-lukisan menakjubkan beliau.

Saya berpikir, bagaimana jika Rudi Hartono hidup di Indonesia masa sekarang ini. Tentu beliau menghabiskan waktu untuk kursus komputer, kursus piano, kursus Bahasa Inggris, les berenang, Bimbingan Belajar Santo Bambang, dll…Padahal talenta beliau adalah bulu tangkis. Mungkin jika beliau hidup di masa sekarang talenta beliau tertutup oleh ketrampilan-ketrampilan “tetek-bengek” yang tidak ada hubungan dengan bakat/talenta yang Tuhan anugrahkan kepada beliau. Mungkin kita menemukan Rudi Hartono menjadi model pakaian dalam berbadan seksi di majalah-majalah bergengsi bertaraf internasional. Kita, Bangsa Indonesia  akan kehilangan banyak sekali prestasi-prestasi bulu tangkis beliau yang menakjubkan.

Saya berpikir, bagaimana jika Gajah Mada hidup di Indonesia masa sekarang ini. Tentu beliau menghabiskan waktu untuk kursus komputer, kursus piano, kursus Bahasa Inggris, les berenang, Bimbingan Belajar Santa Sarinem, dll…Padahal talenta beliau adalah di bidang militer. Mungkin jika beliau hidup di masa sekarang talenta beliau tertutup oleh ketrampilan-ketrampilan “tetek-bengek” yang tidak ada hubungan dengan bakat/talenta yang Tuhan anugrahkan kepada beliau? Mungkin kita menemukan Gajah Mada menjadi PNS Kelurahan Lenteng Agung yang bertugas menginput data-data warga golongan miskin Kelurahan Lenteng Agung. Gajah Mada mengharapkan kenaikan golongan dari III/a, III/b, dst setiap empat tahun sekali. Kita, Bangsa Indonesia  akan kehilangan banyak sekali prestasi-prestasi militer beliau yang menakjubkan.

Saya belum menyebutkan Raden Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dll….

Saya berpikir seandainya saya diberi kesempatan oleh Tuhan Bapa Sorgawi untuk mengulangi kehidupan saya. Saya ingin sekali menjadi psikolog jiwa seseorang. Saya ingin sekali ahli di suatu bidang olah raga seperti pingpong. Saya senang sekali mendengarkan orang menceritakan keluhan mereka kepada saya. Kadang saya memiliki nasehat yang sangat baik untuk mereka, kadang tidak (keseringan tidak). Tetapi mendengarkan mereka dengan tulus, membuat perasaan mereka menjadi lebih baik. Memeluk mereka membuat mereka dan diri saya merasa senang dan hangat. Saya suka sekali sekali memukul bola pingpong dengan bet. Tetapi kedua orang tuaku tercinta mengatakan bahwa menjadi olah ragawan tidak bisa membuat diri kita hidup layak. Mereka menasehatkan supaya saya menjadi “abdi negara”. Akhirnya apa yang sering mereka ucapkan dan doakan dikabulkan (hati-hati dengan apa yang sering kalian ucapkan kepada anak-anak kalian wahai para orang tua). Saya menjadi abdi negara. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan Bapa Sorgawi atas keadaan saya sekarang ini. Setidaknya saya mampu menghidupi seorang istri dan seorang anak kecil, sambil ngutang sana-sini buat bangun tempat tinggal. Tetapi saya sungguh ingin mengetahui apa talenta yang Tuhan Bapa Sorgawi anugrahkan kepada saya? Dimana saya bisa memberikan yang terbaik dari apa yang Tuhan Bapa Sorgawi anugrahkan kepada saya kepada sesama manusia, lingkungan saya, dan negara saya.

Saya tidak mampu memutar balik waktu. Saya tidak mungkin mengharapkan ber-tumimbal lahir/reinkarnasi, karena saya seorang pengikut Kristus.  Saya hanya berusaha yang terbaik agar anak(-anak) saya mampu berkarya sebaik-baiknya menurut talenta yang Bapa Sorgawi anugrahkan kepadanya (mereka). Seperti pepatah kuno Cina mengatakan : “Setiap bidang memiliki juaranya sendiri-sendiri.”

Doa saya : Tuhan Bapa Sorgawi, berikan kepada hamba-Mu yang lemah ini suatu hikmat-kebijaksanaan ilahi seperti yang  Engkau anugrahkan kepada Salomo, untuk dapat membimbing anak(-anak)ku agar mereka dapat menemukan talenta yang Bapa anugrahkan kepada mereka dan mengembangkan talenta mereka bagi kebaikan sesama manusia, lingkungan, dan negara Indonesia yang tercinta ini demi kepujian dan hormat nama-Mu ya Bapa Sorgawi. Di dalam nama putra-Mu yang tunggal Tuhan Yesus, amin.

Jakarta, 2 Agustus 2011.