Gambar Mobil Indonesia buatan SMK 1, Singosari Malang.

Berita tersebut saya baca dari Koran Tempo, Rabu, 3 Agustus 2011 halaman B5. Perusahaan Otomotif Cina yang akan menanamkan modalnya di Indonesia adalah Geely Automobile Holdings Limited. Perusahaan tersebut membangun pabrik di Indonesia untuk dapat memenuhi pasar di Asia Tenggara, Australia, serta Selandia Baru. Produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan asal Cina tersebut diantaranya jenis SUV (Sport Utility Vehicle), VHC (Multipurpose Vehicle), City Car, maupun Sedan. Budi Pramono, Presiden Direktur PT Geely Mobil Indonesia mengatakan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara yang berpeluang besar sebagai pasar paling potensial di Asia Tenggara, mengalahkan Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menyebutkan, Investasi Geely menyebabkan kondisi industri otomotif lebih kompetitif, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Indonesia akan memberi kemudahan kepada investor otomotif non-Jepang untuk masuk ke Indonesia.

Komentar :

Saya tidak tahu berita di atas merupakan berita yang baik atau tidak. Di satu sisi, penanaman modal di Indonesia, sesuai dengan apa yang selalu didengung-dengungkan oleh Orde Baru, akan meningkatkan perekonomian Indonesia karena menyerap banyak tenaga kerja Indonesia, banyak memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak, memberi banyak pemasukan bagi para karyawan para distributor, karyawan bengkel, distributor suku-cadang, dan berbagai macam efek multiplenya. Saya tidak menyangkal hal tersebut.

Perhatikan kutipan artikel di bawah :

” Indonesia dianggap sebagai negara yang berpeluang besar sebagai pasar paling potensial di Asia Tenggara, mengalahkan Thailand, Vietnam, dan Malaysia”

Mengapa, Indonesia dianggap sebagai pasar oleh negara-negara asing? Siapa yang mengijinkan Bangsa Indonesia sebagai pasar sasaran barang dan jasa produk-produk luar negeri? Ya Bangsa Indonesia sendiri. Saya sungguh menginginkan, berharap, berdoa bahwa Bangsa Indonesia memandang dirinya tidak lagi sebagai pasar bagi produk-produk luar negeri, tetapi sebagai produsen bagi negara-negara non Indonesia.

Sebagian berkilah bahwa pabrik yang didirikan di Indonesia adalah milik Bangsa Indonesia, saham-saham dikuasai sebagian besar oleh orang Indonesia, karyawan orang Indonesia, pimpinan pabrik orang Indonesia, para keamanan pabrik orang Indonesia, pemilik bengkel orang Indonesia, dll. Mengapa anda lancang menganggap bahwa ini bukan produk Indonesia?

Logika ini sama saja dengan mengatakan bahwa Bangsa Indonesia tidak pernah dijajah oleh Belanda, karena Sultan-Sultan orang Indonesia, pengumpul pajak orang Indonesia, ningrat-ningrat yang boleh bersekolah orang Indonesia, mandor-mandor perkebunan orang Indonesia, apa yang membuat anda mengatakan bahwa Bangsa Indonesia pernah dijajah oleh Bangsa Belanda?

Kenapa logika ini tidak diterapkan kepada Bangsa-Bangsa non Indonesia? Mengapa tidak ada yang mengatakan kepada Bangsa Jerman untuk tidak mengembangkan merek “Mercedes” dengan membuka pabrik “Yamaha” di Jerman? Bukankah sama saja, pemilik pabrik orang Jerman, pemilik saham sebagian besar dikuasai oleh orang Jerman, perusahaan distributor orang Jerman, dll. Seharusnya Bangsa Jerman jangan mengembangkan lokal mereka “Mercedes”.

Kenapa logika ini tidak diterapkan kepada Bangsa-Bangsa non Indonesia? Mengapa tidak ada yang mengatakan kepada Bangsa Malaysia untuk tidak mengembangkan merek “Proton” dengan membuka pabrik “Yamaha” di Malaysia? Bukankah sama saja, pemilik pabrik orang Malaysia, pemilik saham sebagian besar dikuasai oleh orang Malaysia, perusahaan distributor orang Malaysia, dll. Seharusnya Bangsa Malaysia jangan mengembangkan lokal mereka “Proton”.

Kenapa logika ini tidak diterapkan kepada Bangsa-Bangsa non Indonesia? Mengapa tidak ada yang mengatakan kepada Bangsa Cina untuk tidak mengembangkan merek “Geely” dengan membuka pabrik “Yamaha” di Cina? Bukankah sama saja, pemilik pabrik orang Cina, pemilik saham sebagian besar dikuasai oleh orang Cina, perusahaan distributor orang Cina, dll. Seharusnya Bangsa Cina jangan mengembangkan lokal mereka “Geely”.

Kenapa logika ini tidak diterapkan kepada Bangsa-Bangsa non Indonesia? Mengapa tidak ada yang mengatakan kepada Bangsa Amerika untuk tidak mengembangkan merek “Ford” dengan membuka pabrik “Yamaha” di Amerika? Bukankah sama saja, pemilik pabrik orang Amerika, pemilik saham sebagian besar dikuasai oleh orang Amerika, perusahaan distributor orang Amerika, dll. Seharusnya Bangsa Amerika jangan mengembangkan lokal mereka “Ford” .

Kenapa hanya Bangsa Indonesia yang memiliki alasan yang “logis” untuk tidak membangun merek otomotif sendiri, sedangkan bangsa-bangsa non Indonesia memiliki logika mereka sendiri yang membuat negara mereka mengembangkan produk-produk otomotif merek negara mereka? Mengapa Bangsa Indonesia pintar membuat alasan untuk tidak mengembangkan produk-produk otomotif merek Indonesia tetapi tidak pintar membuat alasan untuk mengembangkan produk-produk merek Indonesia?

Perhatikan kutipan artikel di bawah  :

” Indonesia akan memberi kemudahan kepada investor otomotif non-Jepang untuk masuk ke Indonesia”

Mengapa investor non-Jepang itu tidak bisa berarti Bangsa Indonesia sendiri yang mengembangkan merek nasional? Haruskah kita melakukan perang kemerdekaan dulu agar bisa menjadi tuan rumah otomotif di negara kita sendiri?

Jakarta, 3 Agustus 2011