Tim Riset SMAN 48 Jakarta

Tim riset SMAN 48 (Tim Think Quest) yang terdiri dari 6 siswa-siswi, yaitu Villa Yohana (16), Muhammad Labib Nauvaldi (16), Ikhsan Habibi (15), Tuwendy (16), Faisal Arsya (16), dan Ben Hadi Pratama (15) mengharumkan nama Bangsa Indonesia dengan menang kejuaraan ilmiah Think Quest International 2011 dengan menemukan plastik dari kentang. Plastik temuan mereka tentu saja ramah lingkungan karena plastik tersebut mudah terurai sehingga tidak mencemari lingkungan. Mereka berharap ada pihak-pihak yang mau membantu dalam mendukung penemuan mereka, termasuk dalam memberikan hak paten.

Komentar :

Sungguh saya bangga dengan prestasi anak-anak Indonesia dari SMAN 48. Ini adalah potensi aset yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Mengapa saya bilang “potensi aset”? Karena memang ini hanyalah suatu potensi tanpa adanya tindak lanjut dari pemerintah Indonesia. Bangsa Indonesia tidak jelas arah pembangunannya. Negara ini hanya berorientasi pada kepentingan kantong diri sendiri dan kelompok.

Seandainya Bangsa Indonesia memanfaatkan potensi aset ini, maka penemuan mereka bisa menjadi suatu aset yang sangat luar biasa bagi Bangsa dan Negara Indonesia. Bayangkan dengan penemuan mereka ini maka setidaknya ada 3 kekayaan yang bisa memberikan kontribusi positif bagi pendapatan Bangsa Indonesia, yaitu :

1. Pertanian

Indonesia bisa mengembangkan pertanian bagi hulu produk kentang ini. Berapa banyak petani kentang Indonesia bisa mendapatkan penghasilan dari penemuan ini. Ini adalah diversifikasi hasil pertanian kentang. Luar biasa bukan?

2. Industri

Indonesia bisa mengembangkan industri plastik dengan bentuk penanaman modal dalam negeri untuk menghasilkan plastik dari kentang. Jangan cuma mengharapkan orang asing menanamkan modal ke Indonesia. Kenapa sih bukan kita sendiri yang menguasai suatu produk dari hulu hingga hilir? Mengapa selama ini kita hanya menghasilkan barang mentah untuk kemudian membeli barang akhir dengan harga yang berkali-kali lipat bahan mentah yang kita jual kepada mereka? Mengapa kita hanya bisa menjual kopi mentah dengan harga murah dan mereka menjual produk jadi kopi dengan harga gila-gilaan ke Rakyat Indonesia? Mengapa kita hanya bisa menjual cokelat mentah dengan harga murah ke luar dan mereka menjual produk jadi cokelat batangan ke Rakyat Indonesia dengan harga yang sangat mahal ke kita? Mengapa kita bangga memakan cokelat batangan produk negara asing yang tidak bisa menghasilkan cokelat karena iklim negaranya tidak memungkinkan tanaman cokelat tumbuh dan menghasilkan? Kapan kita merasa bangga memakan produk cokelat dan meminum kopi buatan Indonesia karena memang kedua tanaman tersebut bisa tumbuh subur dan menghasilkan di Indonesia?

3. Kekayaan Intelektual

Sangat jelas bahwa siswa-siswi SMAN 48 butuh bantuan mendapatkan hak paten. Pemerintah Indonesia harus memberikan perhatian mengenai hal ini. Temulawak, suatu tanaman khas Indonesia yang memiliki khasiat lebih baik daripada ginseng yang telah digunakan selama berabad-abad oleh nenek moyang Indonesia sekarang hak patennya dipegang oleh Bangsa Amerika. Bayangkan sendiri, mau memproduksi dengan menggunakan temulawak, tanaman asli Indonesia, harus membayar ke Amerika? Jelas Bangsa Indonesia tercinta sangat lamban menjaga kekayaan alam, budaya, dan intelektualitas bangsanya sendiri. Bangsa Indonesia cuma pintar mengurusi hal-hal yang remeh-temeh yang tidak penting. Bangsa yang mengurus isu bokong Inul sampai 3 bulan sendiri, bangsa yang mengurus isu kolor ijo sampai lebih dari 3 bulan. Marilah kita mengubah paradigma kita, yaitu bagaimana menggunakan kekayaan alam, budaya, dan manusia Indonesia bagi kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa Indonesia.

Jakarta,  4 Agustus 2011.

Sumber:

Koran Warta Kota, Kamis, 4 Agustus 2011

Indonesiaproud.wordpress.com