Bahan Semen dari Lumpur Lapindo

Prof. Dr. Darminto, Msc, pakar fisika zat mampat dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, menemukan bahwa lumpur hitam dari kawasan eksplorasi PT Lapindo Brantas mengandung Silika (SiO2) dalam kadar yang sangat tinggi. Silika merupakan zat yang penting sebagai bahan campuran pembuat semen. Beliau mengatakan bahwa zat silika yang terkandung di dalam lumpur hitam Lapindo menunjukkan bahwa lumpur tersebut berpotensi sebagai bahan pengganti pasir silika yang semakin sulit dicari, sebagai bahan campuran pembuat semen.

Selama ini telah diketahui bahwa paving block yang dibuat dengan menggunakan campuran lumpur hitam Lapindo ternyata dua kali lebih kuat daripada paving block biasa. Selain itu batu bata yang dibuat dari campuran lumpur hitam Lapindo lebih kuat daripada batu bata yang dibuat dari lumpur biasa.

Komentar :

Puji Nama Tuhan Semesta Alam, ternyata di balik bencana lumpur Lapinda, ada terdapat rencana Tuhan yang indah. Sungguh Tuhan memberikan  kekayaan alam Indonesia yang sangat berlimpah-limpah sehingga bencana lumpur saja bisa menimbulkan potensi perekonomian bagi Rakyat Indonesia. Nama “Lumpur Lapindo” saja sudah merupakan nama yang terkenal di seluruh dunia. Dengan menjual nama “Batu-bata Lumpur Lapindo” saja, masyarakat Indonesia dan dunia sudah mengenal. Batu Bata Lumpur Lapindo sudah mencapai apa yang disebut “Brand Awareness (kesadaran adanya merek tersebut di dalam pasar” di dalam dunia pemasaran tanpa susah payah. Padahal suatu merek baru membutuhkan biaya periklanan yang sangat besar agar para konsumen menyadari hadirnya merek tersebut di dalam pasar.

Sekarang bagaimana tindakan pemerintah Indonesia? Apakah hal ini merupakan kesempatan untuk membangun industri batu bata dari hulu ke hilir atau melewatkan kesempatan ini begitu saja? Apakah kekayaan alam yang begitu luar biasa ini dijual mentah-mentah ke Singapura lalu Singapura mengolahnya menjadi batu-bata untuk dibeli lagi oleh kita, Rakyat Indonesia, dengan harga yang super mahal? Atau mungkin Pemerintah Indonesia ingin mengundang investor asing menanamkan modal di lokasi Lumpur Lapindo sehingga mereka bisa menjadi majikan di negara ini sementara rakyat Indonesia bisa menjadi pekerja-pekerja, mandor-mandor, pihak manajemen, dan sebagainya dengan alasan Bangsa Indonesia belum mampu mengolah lumpur ini menjadi barang jadi? Atau Pemerintah bekerja sama dengan universitas-universitas di dalam negeri ini, seperti ITS untuk mengundang investor dalam negeri mendirikan industri batu-bata untuk kita sendiri pakai bahkan diekspor ke luar negeri, sehingga bencana Lumpur hitam Lapindo menjadi berkah bagi negara kita? Semua kembali kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.

Jakarta, 5 Agustus 2011

Sumber :

Koran Tempo, Jumat, 5 Agustus 2011

http://www.solopos.com/2011/patroli/polisi-temukan-penyelewengan-ganti-rugi-korban-lumpur-lapindo-87608. (Diakses 5 Agustus 2011 jam 13:45).