Diversivikasi Pangan

Firman Telo adalah seorang pemuda yang berasal dari Yogyakarta merasa prihatin dengan nasib para buruh migran gelap di Entikong, Kalimantan Barat dan Nunukan, Kalimantan Timur pada tahun 2006. Beliau yang saat itu bekerja di sebuah LSM Internasional yang bertugas memberikan pendampingan kepada para buruh migran yang bermasalah tersebut berpikir di manakah peran pemerintah Indonesia di dalam menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya? Dari pergumulan ini, beliau mengembangkan singkong menjadi beraneka ragam masakan. Beliau sekarang memberi merek usaha singkongnya tersebut dengan merek “Tella Krezz”. Sekarang Tella Krezz memiliki 14 variasi rasa dengan sejumlah 760 unit gerai usaha dengan 55 karyawan (data Warta Kota Selasa 23 Agustus 2011).

Komentar :

Indonesia memang sungguh kaya raya, gemah limpah loh jinawi. Apa sih yang tidak ada di Indonesia? Makan semangka, buang biji pake mulut langsung jadi tanaman. Tidak kaya Jepang yang alamnya sulit sehingga untuk membuat berkecambah tanaman semangka saja para petani semangka di sana harus menaruh biji semangka di perut mereka dengan menggunakan kapas basah. Ketika sudah berkecambah, biji-biji tersebut dibesarkan di rumah kaca karena alam Jepang tidak bersahabat dengan tanaman semangka. Tebak siapa yang menjadi negara pengekspor semangka, Jepang atau Indonesia? Jawabannya : Jepang.

Indonesia negara kaya raya sumber daya alam, kenapa rakyatnya miskin? Mengapa rakyatnya susah cari kerja, kenapa rakyatnya mencari kerja di luar negeri lalu diusir secara memalukan dari negara-negara tempat mereka mencari tenaga kerja? Karena Negara dan Bangsa Indonesia paling pintar jadi konsumen, bukan produsen. Kalau ditemukan ada daerah yang kaya bahan tambang, yang ada di otak para manajemen negara ini adalah mengundang investor asing karena selama 66 tahun Negara Indonesia merdeka masih belum ada teknologi untuk mengelola kekayaan alam tersebut. Lalu berapa lama sih mendidik seseorang menjadi seorang yang ahli di suatu bidang? 66 tahun?

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia dengan panjang mencapai lebih dari 95.181 kilometer mengimpor garam untuk kebutuhan rakyatnya. Alasannya kualitas garam Indonesia berkualitas lebih rendah daripada impor. Bener-bener alasan basi, alasan busuk, alasan brengsek. Kalau memang garam Indonesia berkualitas rendah, apa butuh 66 tahun merdeka untuk meningkatkan kualitas garam di Indonesia? Benar-benar mental kacung penjajah bangsa asing terhadap bangsa sendiri.

Saya berkesan dengan komentar Mas Firman Telo berikut,”Melalui usaha ini saya hanya ingin agar pemerintah dan masyarakat menyadari bahwa untuk bahan pangan seperti beras, gandum, gula bahkan garam Indonesia tidak boleh tergantung pada bahan baku impor. Kita terlalu kaya untuk itu asal semua potensi yang luar biasa itu dimaksimalkan. Saya sudah membuktikan bahwa kalau kita mau bekerja keras, singkong tidak hanya bisa diolah menjadi sumber kegiatan ekonomi produktif, melainkan bisa menjadi sumber ketahanan pangan bagi bangsa ini.” Komentar yang luar biasa bukan? Masakan kita harus marah-marah ke Malaysia lagi nih karena jika suatu saat Malaysia menganggap singkong itu masakan tradisional Malaysia?

Sumber :

Koran Warta Kota, Selasa 23 Agustus 2011.

http://mukhtar-api.blogspot.com/2009/03/garis-pantai-indonesia-terpanjang.html. (diakses 23 Agustus 2011 Jam 11.55).

http://warintek.bantulkab.go.id/basisdata/Budidaya_Pertanian/images/singkong.jpg (diakses 23 Agustus 2011 Jam 12.00).